Showing posts with label Surabaya. Show all posts
Showing posts with label Surabaya. Show all posts

Sunday, November 16, 2014

Sajian Budaya Lokal di Ujung Jembatan Optimalkan Potensi Kawasan di Pulau Madura


Rentang-Rentang Jembatan Suramadu
Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura Bridge) merupakan jembatan yang melintasi Selat Madura. Jembatan sepanjang 5.438 meter ini merupakan wujud kemegahan infrastruktur yang menghubungkan perekonomian dan kebudayaan Pulau Madura dengan Pulau Jawa. Artinya, dengan adanya Jembatan Suramadu, waktu yang diperlukan untuk melintasi Selat Madura menjadi lebih cepat dan perekonomian pun berkembang pesat.

Pembangunan infrastruktur berupa kombinasi jembatan layang (causeway), jembatan utama (main bridge), dan jembatan penghubung (approach bridge) ini memang menjadi fasilitas penting dalam transportasi dari Pulau Jawa ke Madura dan sebaliknya. Karena jika menyeberang dengan kapal feri, penumpang harus menunggu antrian terlebih dahulu agar bisa diseberangkan, sehingga memakan waktu lama. Sementara jika dengan menggunakan jembatan, maka waktu yang diperlukan semakin cepat, karena pengguna tinggal melintas begitu saja dan sampailah ke daratan di seberang. 

Dengan demikian, adanya jembatan Suramadu menjadikan transportasi antarpulau ini pun menjadikan transportasi lebih efisien. Karena itu, jembatan nasional yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009 ini diharapkan mampu mendukung pengembangan kawasan di Madura maupun di Surabaya, dan bahkan di Pulau Jawa. Baik pengembangan ekonomi maupun budayanya. 

Pulau Madura dalam Potensi, Kreasi, dan Inovasi Berbasis Budaya Lokal 
Meluncur Menuju Pulau Madura
Madura merupakan pulau penuh potensi. Karakteristik geografi dan demografi pulau Garam ini memberi warna pada budaya, adat, dan tradisi serta kearifan lokal yang berlaku oleh masyarakat. Pulau yang secara geografis dikelilingi oleh pantai membentuk watak pekerja keras, ulet, tangguh dan rasa setia kawan yang kuat. 
Tidak heran, jika di manapun masyarakat Madura tinggal, maka karakteristik asli tergambar dalam perilakunya. Pedagang yang tangguh, wirausahawan yang handal pula. Daya kreasi, inovasi, dan motivasi tergambar dalam pola-pola bisnis yang dikelola. Sekecil apapun skala bisnisnya, dan sampai sebesar apapun skala bisnisnya, karakteristik wirausaha semacam delay of gratification, traditional skill management, dan tenacity memupuk passion berdagang yang berakar dalam jiwa kemandirian masyarakat Madura. 

Karakter masyarakat Madura tersebut merupakan potensi sumberdaya manusia yang jika dipadukan dengan potensi sumberdaya alam yang dimiliki maka akan menjadi potensi yang luar biasa bagi Pulau Madura untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui akselerasi pendapatan daerah. Terlebih, di era otonomi daerah, dimana pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan pengembangan kawasan di wilayah masing-masing, baik pengembangan kawasan ekonomi maupun budaya. 

Secara ekonomi, potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam Pulau Madura masih bisa dioptimalkan guna mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dan mendukung akselerasi pendapatan daerah.   
Selain itu, pengelolaan wirausauhawan yang terwujud melalui kreasi dan inovasi para pengrajin yang masih terpisah-pisah juga merupakan tantangan bagi pemerintah setempat untuk melakukan aglomerasi dan pengembangan kawasan guna memancing keunggulan kompetitif antarpelaku usaha yang mayoritas masih merupakan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

Melalui pengembangan kawasan pengrajin ini akan terbentuk sentra-sentra bisnis yang sebenarnya memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Sebagai contoh, pengrajin batik Madura dapat diklaster di kawasan dan berada di sentra batik. Pengrajin batik ini akan memerlukan pelaku bisnis di Sentra Tekno untuk mendapatkan software atau aplikasi sistem informasi sederhana dan hardware penunjangnya untuk mendukung proses manajemennya. Pengrajin batik juga akan membutuhkan pelaku usaha di bidang agroindustri sebagai pemasok bahan pewarna alami. Demikian pula dengan sentra wisata, akan memerlukan hasil batik dan hasil kerajinan tangan lainnya untuk souvenir ataupun menambah keunikan dalam bisnisnya.

Rasa setia kawan antarindividu merupakan potensi untuk meningkatkan perekonomian dengan sistem saling menguatkan. Bahwa mereka tidak akan mengambil pemasok dari luar daerah jika di daerahnya masih ada pasokan yang memadai. Pengembangan kawasan bisnis melalui pola aglomerasi ini selain memudahkan pengelolaan kawasan, juga memicu daya saing pelaku bisnis dan saling menguatkan, serta bisa menjadi tujuan wisata yang menarik pengunjung pulau ini. 

Mengapa? Dengan adanya sentra-sentra bisnis dalam kawasan, maka pengunjung akan dengan mudah menuju lokasi-lokasi yang dianggap unik. Pastinya, hal ini perlu dukungan regulasi dari pemerintah lokal, supaya kearifan lokal yang unik dan khas tetap mewarnai sentra-sentra bisnis tersebut. Baik menjadi pewarna dalam manajemen dan proses bisnis internal maupun dalam hasil produksinya. 

Pulau Madura di Ujung Jembatan 
Selamat Datang di Pulau Madura
Adanya Jembatan Suramadu memang diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung antara masyarakat di luar daerah untuk mengetahui lebih jauh mengenai potensi pulau Madura di berbagai kawasan. Namun, sejauh ini, ketika menyeberangi jembatan dan sampai di ujung jembatan, maka pengunjung atau pendatang yang pada umumnya sengaja ingin menikmati jembatan Suramadu, hanya disambut dengan para penjual kerajinan dan makanan khas Madura yang berbaris di sisi kiri kanan ujung jembatan. 

Hal ini menjadikan para pengunjung tersebut merasa 'kaclek' karena setelah itu mereka hanya bisa duduk-duduk saja di dalam mobil atau di lesehan para pedagang kecil. Tidak ada pemandangan atau kegiatan lain yang menarik untuk dilakukan dan berlama-lama di jembatan yang hingga saat ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia. 

Seperti yang dialami oleh pengunjung dari Kalimantan Timur yang tengah ada keperluan bisnis di Surabaya. Senyampang di Surabaya, sebelum pulang ke Kalimantan, mereka ingin melintasi Jembatan Suramadu. Setelah seharian menunggu di Surabaya, mereka pun diantar ke Jembatan Suramadu. Namun, setelah sampai di Jembatan dan menyeberanginya, mereka hanya bisa duduk-duduk di dalam mobil, menikmati semangkuk bakso dan segelas es jeruk manis. Atau sambil menikmati tahu petis khas Madura atau rengginang lorjuk. Selebihnya mereka belanja oleh-oleh khas berupa kerajinan tangan atau makanan khas yang banyak dijajakan di pinggir jalan. Setelah itu, mereka pun kembali menyeberang jembatan dan kembali ke Surabaya. 

Di sini, memang terasa masih hambarnya pemandangan di ujung jembatan. Baik di Madura maupun di Surabaya. Karena di kedua ujung jembatan tersebut belum menfasilitasi pendatang atau pengunjung yang sengaja datang ke Jembatan Suramadu dan menganggap Jembatan Suramadu sebagai salah satu 'keajaiban' dunia yang harus dikunjungi. Artinya, Jembatan Suramadu bukan sekedar berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan dua daratan, tetapi sebagai bangunan megah dan berjaya yang patut mendapat apresiasi untuk dinikmati. 

Oleh karena itu, sudah saatnya bagi pemerintah lokal untuk mengubah simbiosis komensalisme antara jembatan Suramadu dengan Pulau Madura agar menjadi simbiosis mutualisme. Artinya, jika selama ini, jembatan Suramadu dapat memperoleh pendapatan dari pengendara yang melalui jembatan, maka sudah saatnya Pulau Madura juga meningkatkan pendapatan daerah melalui optimalisasi keberadaan jembatan Suramadu. 

Pertama, Resonansi Budaya Lokal di Ujung Jembatan 
Ragam budaya Madura yang terbentuk sebagai wujud dari watak masyarakat Pulau Madura sebenarnya dapat ditampilkan di saat pendatang berhasil mencapai ujung jembatan. Pembangunan taman budaya berbasis kearifan lokal semacam onjem, petik laut, nyabis, telasan, pangambek, andun dapat dibangun dengan dukungan regulasi pemerintah daerah. 

Taman budaya ini dapat menyajikan aneka jenis kesenian tradisional Madura seperti karapan sapi, tari-tarian, lukisan, lagu, dan sebagainya. Tentunya, penyajiannya juga didesain dalam lokasi-lokasi berdasarkan wilayahnya. Dengan demikian, akan memudahkan pengunjung dalam memilih sajian budaya tersebut sekaligus mengetahui daerah asal yang kental dengan budaya tersebut. 
Untuk itu, kendala terbesar yang mungkin dihadapi adalah masalah pembebasan tanah. Namun, hal ini dapat diatasi melalui pendekatan adat dan dilakukan secara personal. Artinya komunikasi secara adat yang empatik dan simpatik kepada masing-masing pemilik tanah. Dan, yang paling 'afdhol' hal ini dapat dilakukan oleh Gubernur sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Provinsi Jawa Timur. 

Kedua, Peta Kawasan dan Peta Sentra Bisnis bagi Pedagang Kaki Lima di Ujung Jembatan 
Pedagang kaki lima di ujung jembatan dapat dirapikan melalui penempatan jenis dagangan. Misalnya sentra kuliner, sentra batik, sentra kerajinan tangan, dan lain-lain. Pola penempatan pedagang kaki lima ini dapat dilakukan dengan memetakan kawasan dan sentra bisnis. Artinya, penempatan pedagang kaki lima ini dapat disusun dalam sebuah peta kawasan dan sentra bisnis. Dengan demikian, pengunjung dapat mengetahui wilayah asal setiap produk yang dijual. 

Ketiga, Zona Rekreasi (Playground) 
Anak 1 (Usia 10 tahun): "Enggak ah, Suramadu kan nggak ada apa-apanya. Enakan di Kebun Bibit saja, ada mainannya, ada lapangannya, bisa lari-larian, bisa mainan pula."  
Anak 2 (Usia 11 tahun): "Tapi bosan. Setiap hari libur ke Kebun Bibit." 
Anak 3 (16 tahun): "Memang ngapain sih ke Jembatan Suramadu. Paling juga duduk-duduk di mobil. Nggak ada yang bisa dilihat,"  
Anak 4 (Usia 17 tahun): "Halah, jembatan Suramadu. Memangnya ada apanya di sana. Harusnya ada tamannya atau apa kek, air mancur, atau apa lah, yang bisa dinikmati. Hehehe ..." 
Komentar-komentar tersebut meluncur dari mulut empat putra putriku yang pernah kuajak ke Jembatan Suramadu dan saya tawari untuk jalan-jalan ke sana untuk yang kedua kali. Bahkan, si sulung pun sangat berat hati saat saya minta untuk menemani saudara yang datang dari luar pulau untuk melintasi jembatan Suramadu. Rupanya pengalaman pertama melintasi Jembatan Suramadu memberi pengalaman yang kurang 'mengenakkan' tentang Jembatan Suramadu. Karena waktu itu, kami hanya bisa duduk-duduk di seberang jembatan, menikmati bakso dan minuman segar. Untuk selanjutnya, kami harus kembali ke Surabaya dan menghabiskan waktu di Pantai Kenjeran Lama, karena padatnya jalan menuju Pantai Ria Kenjeran Baru. 
Menikmati Jembatan Suramadu dari Atas Mobil (Di Tengah-tengah Jembatan)
Menikmati Cemilan di Atas Mobil
Turun Sebentar, Tidak Banyak yang Bisa Dinikmati
Sebagaimana disebutkan di muka, jembatan nasional yang diluncurkan pembangunannya oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tahun 2003 ini merupakan simbol kemegahan infrastruktur di bidang transportasi. Banyak orang yang ingin melintasi panjangnya Jembatan Suramadu untuk menikmati kegagahan dan kemegahannya. 
Tidak jarang, di hari libur atau di akhir pekan, sebelum atau sesudah menikmati wisata pantai di Kenjeran Surabaya, masyarakat akan mengarahkan tujuannya ke Jembatan Suramadu. Oleh karena itu, kehadiran playground diperlukan untuk menarik kunjungan masyarakat yang haus dengan hiburan di ruang terbuka hijau. Jangan sampai kalimat yang meluncur dari anak-anak seperti kutipan di atas terdengar lagi di masa datang. 

Keempat, Regulasi Berbasis Kearifan Lokal 
Regulasi pemerintah selama ini yang terkesan kaku dengan tataran hukum, mungkin harus mulai memperhatikan kearifan lokal. Regulasi yang mendukung budaya lokal dan memegang kearifan lokal yang berlaku di masyarakat semacam onjem, petik laut, nyabis, telasan, pangambek, andun, dan semacamyna diharapkan lebih mudah diterima oleh masyarakat. 
Dengan adanya regulasi berbasis kearifan lokal, akan memudahkan pemerintah daerah dalam mewujudkan setiap program kerja yang digalakkan. Intrik dan konflik yang selama ini ditemukan terkait kepentingan masyarakat dan kepentingan pemerintah pun dapat diminimalkan dan bahkan diharapkan dapat dieliminasikan. Sehingga harmoni antara masyarakat dan pemerintah pun dapat tercapai. 

Suramadu, Antara Kemegahan, Kehidupan, dan Penghidupan 
Menembus Kemegahan Jembatan Suramadu
Akhirnya, dengan uraian di muka dapat disimpulkan bahwa Pulau Madura adalah pulau yang sarat dengan potensi positif di bumi Tanduk Majeung. Faktor geografis yang tergambar dalam karakteristik demografi dan kepribadian masyarakat membentuk budaya lokal yang unik, sehingga tercipta kearifan lokal dalam setiap perilaku dan tradisi. Kearifan lokal yang mewarnai sistem nilai dalam bermasyarakat, sehingga masyarakat di Pulau Garam ini dikenal sebagai pelaku bisnis yang tangguh dan ulet, serta setia kawan. 

Jembatan terpanjang di Indonesia ini pun masih menjadi magnit bagi pengunjung yang datang ke Surabaya. Potensi yang melekat dalam kemegahan jembatan Suramadu menjadi bekal yang sangat efektif untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat Madura melalui manajemen proses bisnis dan regulasi agar menjadi wacana dalam penghidupan masyarakat di daerah. Kemegahan infrastruktur yang melekat dalam bangunan Jembatan Suramadu tidak hanya menggambarkan fungsinya sebagai penghubung dua daratan, karena ada aroma wisata yang juga tercium dari kekhasan budaya lokal Pulau Madura. 

Selanjutnya, melalui upaya aglomerasi dalam pengembangan kawasan yang dieksplorasi di ujung jembatan, diharapkan mengantarkan pengunjung untuk menikmati lebih jauh cita rasa budaya khas Madura. Dengan demikian potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam dapat digarap secara sempurna yang terwujud dengan kemajuan para pelaku UMKM di berbagai penjuru di Pulau Madura. Yang pada akhirnya potensi budaya lokal yang khas akan mendukung potensi ekonomi di Pulau Garam ini. 
In Sya Allah.

Gambar: Doc. Pribadi by @mom_of_five, 
Januari 2013, Jembatan Suramadu

Saturday, October 25, 2014

Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya

Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya or Ornamental Fish Market is the place where we can buy various beautiful fishes and its accessories. The location is at Jalan Gunungsari 71 Surabaya, East Java. Here, we can hunt many types of beautiful fishes, lobster, fish foods, medicine and supplement for fish. Here, we can aslo find many kinds of tools and accessories for aquarium, such as filter, synthetic water plants, water plants, colourish stone, and others. 
Parking Area
Ornamental Fish: Colourful in the Plastic Packaging
Beautiful Fish, Shrimp Also ..... Eh, Lobster
Selecting Fishes .... Hmmmm, All are so Beautiful and Interesting
Food Supplement for Fish
Many Equipments for Fish Lovers to Care
Synthetic Plants for Aquarium ....
Water Plants ..... They are Original Plants Hmmmm ....
Overall, in this fish market, the fish lovers can find what they need in fulfilling their hobby. Perhaps, they will travel in this market all day long. Moreover, as usual, in the crowded place, there will always be food and beverages seller. So, for the visitor of this fish market, never worry about that, because we can find them also here. And, when we get hungry, we just can buy food and beverages, such as seafood, fried chicken, pecel lele, bakso or meatball here. 

Yummy and enjoyable place I think. So, for the fish lover, have you been there?

All Pics were Taken by @mom_of_five, October 25, 2014

Tuesday, July 8, 2014

Bukan Lagi Hanya Menjadi Kisah dalam Negeri Dongeng

Membaca kisah dari negeri dongeng. Banyak keajaiban yang mencengangkan. Gatotkaca yang terbang melayang dengan pakaian pusakanya. Superman yang meluncur ke angkasa dengan jubahnya. Serta bidadari cantik Nawang Wulan dengan selendangnya meninggalkan Jaka Tarub di bumi dan terbang ke kahyangan. Bahkan Nenek Sihir yang terbang dengan sapu ajaibnya.

Terbang Menembus Awan dalam Kisah Negeri Dongeng
Ragam dongeng yang menjadi pengantar tidur anak tersebut melekat erat sejak dulu hingga saat ini. Tidak lekang oleh masa. Dan, saat mendengarkan cerita semacam itu, anak-anak terkesima dan turut berhayal, seolah dirinya adalah tokoh itu sendiri. Sehingga, setelah mendengar, membaca, atau melihat dongeng tersebut, mereka akan mempraktikkan bagaimana menjadi putri cantik atau pangeran perkasa yang dapat terbang menembus awan.

Mereka akan mengenakan sapu, menaikinya, dan menyeretnya sambil lari berkelok-kelok. Atau mengenakan sarung dan selendang yang diserakkan di punggung, lalu berlari-lari sambil tangannya melambai di sisi kiri dan kanan dengan gemulai. Seperti sayap.

Itulah dunia anak-anak. Dunia yang penuh imajinasi dan fantasi.

Bahkan sampai dewasa, dunia terbang dan penerbangan masih menjadi dunia lain yang fantastik. Terkesan mewah dan istimewa. Betapa tidak, terbang tinggi di awan. Meluncur menembus langit biru. Muncul lagi di permukaan bumi yang berbeda. Dengan waktu hanya sekejab.

Dan, hanya orang yang berduit saja yang dapat terbang di atas awan. Naik pesawat bersayap lebar dengan raungan mesin dan liukan asap bagai ekor ular yang mengikuti gerakannya menembus awan dan langit biru.

Sementara, bagi orang yang tidak berduit, mereka menjadi pihak yang kurang beruntung, karena harus tetap membawa imajinasinya hanya sampai di dunia mimpi. Karena tiket pesawat tidak mampu dijangkau oleh kantong tipis mereka. Sehingga mereka harus merasa puas hanya bergerak di darat. Bersama deru kereta dan bus antarkota. Atau menari dalam gemulai gelombang laut, mengiring kapal laut menuju seberang.

Hingga akhirnya, semua berubah. AirAsia datang ke Indonesia dengan tawaran penerbangan tanpa embel-embel. No Frills, Lowest Fares. Dan, terbang pun tidak perlu lagi menunggu tebalnya kantong.

Now Everyone Can Fly (Gambar modif dari Fanpage AirAsia Indonesia)


Now Everyone Can Fly

Ya, dengan AirAsia, perjalanan mewah dan istimewa menembus awan dapat dinikmati setiap orang. Anak-anak pun tidak perlu lagi menyimpan dunia hayalnya hingga dewasa untuk menikmati indahnya meluncur di atas awan, menikmati kenyamanan perjalanan di antara gumpalan kapas tipis dan tebal. Menyeruak dunia fantasi, mengantar imaji membubung tinggi. Karena, semua itu nyata bersama AirAsia.

Berdasarkan pengalaman penulis, terbang melintasi barisan awan Surabaya-Jakarta hanya dalam jangkauan waktu satu jam sepuluh menit. Sangat berbeda saat penulis harus melalui waktu 12 jam terkantuk-kantuk di dalam bus malam.

Terbeng Menembus Langit Biru (Sumber Gambar: Fanpage AirAsia Indonesia)
Menikmati birunya langit dan barisan awan. Sungguh seperti mimpi, saat harus berada di antara awan. Hingga akhirnya harus mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dan gerak mewah jalan-jalan ibukota pun memberi warna bagi cakrawala dunia penulis.

Gambar: Dok Pribadi
Penulis pun menempuh Jakarta-Malaysia hanya dalam waktu dua jam dua puluh menit. Di sana penulis pun disambut semarak Air Mancur Menari, liukan ceria air mancur warna-warni dengan iringan musik menghentak, temaram langit Kuala Lumpur, dan gemerlapnya KLCC (Kuala Lumpur City Center). Serta kehangatan Corus Hotel, dan sendunya pagi di area KLCC dengan ceruit suara burung di seberang jalan.

Selanjutnya penulis juga dapat menikmati megahnya Menara Petronas dengan sistem antrian yang terjadual secara sistematis. Longgarnya jalan raya, sehingga jalanan bebas macet, karena desain kota metropolis yang membuat nyaman pejalan kaki di gang-gang bawah tanah di antara deretan pertokoan mewah. Tidak lupa semarak Petaling Street di waktu malam dan riuhnya Genting Highland di sela-sela bekunya hawa dingin saat harus menembus kabut dengan kereta gantung.

Sampai gurihnya roti Chanai dengan sengatan bumbu kari, hamparan seafood restaurant, sampai semaraknya Kampung Baru yang banyak menyajikan kuliner khas Indonesia. Serta legit lembutnya durian Mou Sang King. Juga lembutnya cokelat tiramisu di Beryl's Chocolate Kingdom.

Dan, akhirnya, AirAsia membawa penulis kembali ke Surabaya dengan rute Kuala Lumpur-Surabaya hanya dalam kisaran dua jam limabelas menit. Terbang bersama AirAsia dari LCCT (Low Cost Carrier Terminal) dan mendarat di Bandara Juanda Terminal 1, merupakan pengalaman pertama penulis menembus rembang petang di atas awan. Memperhatikan suasa alam dengan bentuk peta google map tergambar di bawah sana. Hingga samar-samar cahaya lampu Kota Surabaya yang berkerlap-kerlip di bawah sana. Menjadikan dunia serasa benar-benar seperti negeri dongeng.

Jika biasanya penulis memandang kerlap-kerlip bintang dengan mendongak. Maka saat itu, penulis harus merunduk ke bawah, untuk nikmati indahnya kerlap kerlip lampu malam di Kota Surabaya. Menjelang jejak pesawat mendarat di Bandara Juanda.

Kini, terbang menembus awan telah menjadi hal yang sedemikian mudah dan murah. Terlebih, layanan pembelian tiket online yang sangat mudah melalui situs AirAsia.com. Untuk online pun kini tidak harus melalui personal computer. Dengan layanan aplikasi mobile pun bisa dilakukan pemesanan tiket. Jadi, di mana pun dan kapanpun, penumpang bisa pesan tiket.

Akhirnya, dengan AirAsia, tidak hanya mengubah hidup anak-anak dan penulis, tetapi mengubah hidup setiap orang, bahwa terbang ke angkasa kini menjadi hal yang mudah dan murah. Tagline penerbangan tanpa embel-embel disampaikan AirAsia dengan membuang aktivitas nonvalue-added dan memaksimalkan aktivitas value-added, sehingga harga tiket pun menjadi sangat murah.

Anak-anak pun tidak perlu lagi menyimpan imajinya dengan membawa sapu lidi, atau berjubah sarung, atau bersayap selendang, agar bisa terbang ke atas awan. Atau berlari meliuk-liuk sambil melambai gemulai tangan kiri dan kanan. Karena, dengan AirAsia, menembus awan dan menikmati barisan gumpalan awan yang melayang di cakrawala, bukan lagi hanya cerita dari Negeri Dongeng. Dan, menjangkau nusantara pun menjadi lebih mudah. Bahkan menuju ragam destinasi di penjuru dunia.

Thursday, October 24, 2013

Surabaya Zoo: The Most Popular Zoo in Indonesia


Parking Area
 Surabaya Zoo is the most popular zoo in Indonesia, and even ever been the most complete collection of animal in South East Asian. Surabaya Zoo also the oldest zoo in Indonesia. It was founded firstly by a journalist H.F.K. Kommer who had hobby in collecting animal. This foundation was supported by the decree (SK) from Governor General of Netherlands on August 16, 1916 Number 40 by named as “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” (Kebun Botani dan Binatang Surabaya).
Now, Surabaya Zoo is located at Street of Setail No. 1 Surabaya. The collections of it are including many kinds of tropical animal, aquarium, nocturama, toxidermi quarantine. There are more than 300 species with more than 4300 animals, including the rare and/or wild animal in Indonesia, either  Mamalia, Aves, Reptilia, Pisces.
The strategic location of Surabaya Zoo makes it be the interesting place for family holiday. The visitors are not only from Surabaya, but also from others places. When visiting Surabaya, there will be something wrong or incomplete when does not visit Surabaya Zoo. Moreover, nowadays,the management of Surabaya Zoo add the facilities in the zoo, such as band, water bike, sheep/boat, playing ground, and tower in which visitors can see around Surabaya from the top.

The Map of Surabaya Zoo Area
The Collection of Surabaya Zoo
Orang Hutan Kalimantan, The Rare Animal
Elephant, The visitors can Ride It



Band that Will Entertain Visitors

Surabaya City from Top of Tower
Playground
Mainan Anak-anak
Skuter Pun Ada
Asyiik ... Muter Yuuk


Don't Worry, Visitors can Buy Some Food and Beverages There
And, Visitors Can also Do Culinary Tour

All Images are Personal Collection, Pic by admin (C) 2013

Saturday, September 15, 2012

Rujak Cingur, Rujak Uleg, and Rujak Manis: Shake Your Tongue

Fruitsalad Recipes Various from Surabaya - Yupps, Surabaya has many kinds of fruitsalad or rujak recipes that an be the gorgeous destination for culinary tourism. By these various fruitsalad recipes, we can make our tongue feels so delicious so......
Boiled Cow's Mouth (Cingur), Fried Tofu, and Tempe
One of the famous fruitsalad recipes is Rujak Cingur. Rujak Cingur is one traditional fruit salad in Surabaya in which uses Cingur (Cow's Mouth and Cows' Skin - Cecek) in it recipe. These cow's mouth and skin are boiled and sliced, then mixed in the fruitsalad. By the way, here are the Rujak Cingur Recipe:
Several kinds of sliced fruits like cucumbers, boiled krai (bedoyo), bengkoang, young mango, pineapple, kedondong and with addition of lontong (rice cake), tofu, tempe, boiled cow's cingur and skin, and vegetables such as sprouts/bean sprouts, kale and beans. 
All the materials are mixed with a special sauce made from refined petis shrimp, boiled water, palm sugar, chili pepper, fried peanuts, fried onions, salt and thinly sliced green beans (bananas klutuk). 
All the sauces/spices mixed with uleg (pestle) way. When it has been mixed all, it can be served by using pincuk (banana leaves) or plate and crackers.
For people who do not like the boiled ingredients,  they can ask rujak cingur without the boiled ingredients and just using raw fruits.

Rujak Cingur and Crackers

When the fruidsalad does not use cow's mouth, then this rujak is called as rujak uleg, because the way to make this by using uleg-uleg to mix the spices. Commonly, Surabaya people conduct an annual festival in Surabaya to celebrate Surabaya Anniversary on May.
People pestie the ingredients (Uleg-uleg)
The other fruitsalad recipe from Surabaya is Rujak Manis or Rujak Buah. This kind of Rujak that uses sweet soy sauce. The ingredients are various of fruit such as papaya, pineapple, bengkoang, manggo, etc that are sliced well. Then the sauces is made from palm sugar, fried ground nuts, fried garlic slices, chilli, salt, and tamarind. These sauce ingredients are mixed well. This Rujak Manis also known as Rujak Tolet, because the fruit slices are touched to sauce when eating.
Rujak Manis
After knowing various fruitsalad recipes in Surabaya, now is time to shake our tongue :). Instead of Rujak, there are still more typical foods from Surabaya, such as Lontong Balap and Semanggi Suroboyo.

Image: makansepuasnya.blogspot.com, jelajahjajan.blogspot.com, masakmasakan.wordpress.com

.comment-content a {display: none;}